Menyiapkan Pemimpin Tilawah Klasikal; Langkah Nyata untuk Menghidupkan Budaya Al-Qur'an di Sekolah
Oleh : Ustadz Hasanudin, S.Pd.
Allah Swt. berfirman,
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
"... dan
bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil."
(QS. Al-Muzzammil: 4)
Ayat tersebut menjadi landasan bahwa membaca Al-Qur'an bukan sekadar menyelesaikan bacaan, tetapi membacanya dengan benar, perlahan, dan sesuai dengan kaidah yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ. Karena itu, pembiasaan membaca Al-Qur'an perlu dibangun sejak dini melalui bimbingan yang berkesinambungan dan keteladanan dari guru maupun peserta didik.
Sebagai ikhtiar menumbuhkan budaya Al-Qur'an di lingkungan sekolah, SDIT Al Uswah Surabaya menyelenggarakan pembinaan Calon Pemimpin Tilawah Klasikal bagi siswa kelas atas pada Rabu–Kamis, 15–16 Juli 2026. Kegiatan ini bertujuan mempersiapkan siswa yang tidak hanya memiliki bacaan Al-Qur'an yang baik, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam memimpin murojaah bersama sebelum salat Zuhur dan Asar.
Pembinaan dilaksanakan oleh guru-guru Al-Qur'an yang telah tersertifikasi Metode Adz Dzikro. Selama kegiatan, peserta dibimbing secara intensif dalam memimpin pembacaan Al-Qur'an klasikal dengan bacaan yang tartil menggunakan nada Hijaz. Selain melatih keberanian dan rasa percaya diri, guru juga memberikan perhatian terhadap kualitas suara, pengaturan tempo, ketepatan makhraj, fasahah, serta konsistensi penerapan hukum tajwid.
Setiap peserta memperoleh kesempatan mempraktikkan secara langsung cara memimpin tilawah di hadapan guru pembimbing. Dari praktik tersebut, guru memberikan evaluasi dan perbaikan sehingga siswa mampu memperbaiki kekurangan sekaligus meningkatkan kualitas bacaannya. Proses ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan membaca Al-Qur'an yang baik sekaligus melatih jiwa kepemimpinan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik
kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya."
(HR. Al-Bukhari)
Hadis tersebut mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya terletak pada kemampuannya membaca Al-Qur'an, tetapi juga pada kesediaannya membimbing orang lain. Melalui pembinaan ini, siswa dipersiapkan untuk menjadi teladan yang mengajak teman-temannya semakin dekat dengan Al-Qur'an melalui keteladanan dalam membaca dan memimpin murojaah.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Kesungguhan mereka dalam menerima arahan dan memperbaiki bacaan menjadi modal penting untuk mengemban amanah sebagai pemimpin tilawah klasikal. Di akhir pembinaan, guru memberikan pesan agar para siswa senantiasa menjaga semangat belajar Al-Qur'an, terus memperbaiki bacaan, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, siswa yang telah mengikuti pembinaan akan memperoleh jadwal untuk memimpin murojaah Al-Qur'an di musala sekolah sebelum salat Zuhur dan Asar. Diharapkan kegiatan ini mampu menghidupkan budaya Al-Qur'an di lingkungan SDIT Al Uswah Surabaya, sehingga pembiasaan membaca Al-Qur'an tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi sarana membentuk karakter kepemimpinan, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap Kalamullah.
Sebagaimana nasihat Imam Malik, "Ilmu itu dipelajari untuk diamalkan." Semoga para siswa yang telah dibina tidak hanya mampu memimpin bacaan Al-Qur'an dengan baik, tetapi juga menjadi generasi Qur'ani yang mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

