Lompat ke konten

Berbagi Praktik Baik Digitalisasi Pembelajaran: Membawa Semangat SDIT Al Uswah Surabaya ke Ruang Belajar yang Lebih Luas

Berbagi Praktik Baik Digitalisasi Pembelajaran: Membawa Semangat SDIT Al Uswah Surabaya ke Ruang Belajar yang Lebih Luas



Oleh : Ustadz Muhammad Azzam Erbakan, S.H.


Minggu, 15 September 2026, ada rasa syukur sekaligus tanggung jawab ketika mendapatkan kesempatan untuk berbagi praktik baik bersama para pendidik. Pada kesempatan kali ini, saya mendapat amanah untuk hadir sebagai perwakilan guru SDIT Al Uswah Surabaya dalam kegiatan Workshop Pendidikan Digitalisasi Pembelajaran bersama Bunda-Bunda PAUD Surabaya.

Bagi saya, kesempatan ini bukan sekadar menjadi narasumber. Lebih dari itu, saya membawa semangat belajar, budaya berbagi, dan praktik baik yang selama ini tumbuh di lingkungan SDIT Al Uswah Surabaya. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa pengalaman yang lahir dari ruang kelas seharusnya tidak berhenti di kelas itu sendiri. Ketika dibagikan, pengalaman kecil dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak pendidik.

Dalam sesi workshop, saya mengajak para peserta untuk melihat digitalisasi pembelajaran dari sudut pandang yang lebih sederhana dan dekat dengan kebutuhan anak. Digitalisasi bukan tentang seberapa banyak aplikasi yang digunakan, seberapa canggih perangkat yang tersedia, atau seberapa sering anak berada di depan layar.

Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi dapat membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif, menyenangkan, interaktif, dan bermakna.

Kami memulai dari pemahaman bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan guru tetap menjadi pengarah utama pembelajaran. Dari sinilah praktik dilanjutkan dengan pemanfaatan Ruang Murid sebagai salah satu sumber belajar digital yang dapat memperkaya referensi guru.

Setelah menemukan sumber belajar yang sesuai, peserta diajak mengembangkan pengalaman belajar melalui pendekatan Station Rotation. Dalam strategi ini, aktivitas digital tidak berdiri sendiri, tetapi dipadukan dengan aktivitas bermain, bergerak, berinteraksi, bereksplorasi, dan berkreasi.

Perjalanan belajar kemudian dilanjutkan dengan pemanfaatan Canva dan Pustaka Edukasi untuk membantu guru menyiapkan media pembelajaran yang menarik dan relevan. Dengan alur tersebut, teknologi menjadi bagian dari sebuah proses yang utuh:

menentukan tujuan → memilih sumber belajar → merancang strategi → menyiapkan media → menghadirkan pengalaman belajar.

Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah melihat antusiasme para peserta saat mencoba, berdiskusi, dan mulai membayangkan bagaimana ide-ide tersebut dapat diterapkan di kelas masing-masing.

Dari pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Sering kali, perubahan justru berawal dari satu guru yang mau belajar, berani mencoba, kemudian berbagi kepada guru lainnya.

Sebagai bagian dari keluarga besar SDIT Al Uswah Surabaya, saya merasa bangga dapat membawa praktik baik dari sekolah ke ruang yang lebih luas. Bagi saya, mewakili sekolah bukan hanya tentang membawa nama baik sekolah , tetapi juga membawa nilai bahwa guru harus terus bertumbuh, berinovasi, berkolaborasi, dan memberi manfaat.

Setiap kesempatan berbagi selalu menghadirkan pelajaran baru. Kita datang untuk berbagi pengalaman, tetapi sering kali justru pulang dengan lebih banyak inspirasi.

Guru PAUD bukan hanya mengenalkan pengetahuan kepada anak. Mereka sedang menanamkan pengalaman pertama yang akan membentuk perjalanan belajar anak di masa depan.

Teknologi boleh terus berkembang, tetapi kehangatan, kreativitas, dan peran guru dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna tidak akan pernah tergantikan.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *