Lompat ke konten

Kesiapan Adanya Pandemi Covid-19

Sebelumnya metode pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan anak yang suka menunda tugasnya antara lain mengajarkan manajemen perencanaan, berusaha membangun kebiasaan baik untuk mengerjakan PR dan melatih skill belajar. Tetapi cara-cara tersebut tidak selalu berhasil. Banyak dari kita mengeluh karena sudah dinasehati berkali-kali bahkan diberi hukuman berat tetapi anak tidak berubah. Kira-kira kenapa ya? Kita akan membahas perilaku suka menunda tugas (prokrastinasi) dari akarnya.

Dalam ilmu psikologi perilaku menunda pekerjaan disebut juga dengan istilah prokrastinasi. Broadus (1984) mendeskripsikan mendeskripsikan ciri-ciri prokrastinasi sebagai berikut:

-     Punya niatan atau intensi untuk menyelesaikan tugas tetapi selalu beralasan untuk mengerjakannya besok

-    Fokus pada apa yang belum mereka lakukan, bukan pada apa yang telah mereka capai. “Aku tidak bisa matematika!” padahal hanya terfokus pada satu soal yang sulit

-       Jarang menggunakan nilai rendah atau komentar guru sebagai motivasi untuk meningkatkan performa

-       Punya rentang perhatian yang rendah (mudah terdistraksi)

-       Percaya bahwa dapat mengerjakan tugas lebih baik ketika berada di bawa tekanan

-       Sering mengatakan “tidak paham” atau “ tidak bisa” ketika ditanya kenapa tidak dikerjakan

-       Benci ketika diingatkan PRnya belum dikerjakan

-       Mengatakan akan mengerjakan lebih baik di tugas berikutnya, tetapi tidak pernah terjadi.

Nah, dari ciri-ciri di atas apakah anak anda atau anda sendiri salah satunya? Saya yakin tidak sedikit dari kita menghadapi permasalahan di atas. Saya yakin juga bahwa kita sebagai orangtua telah melakukan semua yang kita bisa untuk menyelesaikan masalah tersebut, tetapi mungkin masalah tidak kunjung selesai. Lalu apa ya yang harus dilakukan ketika menghadapi anak yang suka menunda tugas?

Sebelum ke tahapan yang bisa kita lakukan sebagai pendidik atau orangtua, kita perlu memahami dulu akar penyebab mengapa anak suka menunda mengerjakan tugasnya. Tidak seperti yang kita kira selama ini, faktor rasa malas bukanlah satu-satunya penyebabnya. Lalu apa saja faktor-faktornya?

Konsep Diri

Beberapa penelitian menghubungkan pencapaian akademik yang rendah dengan rendahnya konsep diri. Ada juga yang menghubungkan prokrastinasi dengan pencapaian diri dan konsep diri. Berry, Burka dan Yue menggambarkan bagaimana orang melihat konsep dirinya dari segi kemampuan dan harga diri mereka. Jadi, dengan menunda-nunda seseorang tidak berusaha untuk melakukan tugas, sehingga ketidakmampuannya tidak terlihat dan harga diri mereka terlindungi

Fear of Failure (Takut / Cemas akan Kegagalan)

Punya ekspektasi dan sikap yang tidak realistis terhadap pencapaian. Perilaku menunda tugas memungkinkan seseorang untuk menghindari resiko gagal dan melindungi self-esteemnya.

Perfection

Aspek yang berhubungan dengan ketakutan akan kegagalan (fear of failure) adalah kebutuhan akan kesempurnaan. Jika seseorang tidak dapat menuntaskan tugas dengan sempurna, maka tidak ada gunanya untuk memulai mengerjakan tugas. Anak dengan kondisi seperti ini perlu diajarkan untuk mengapresiasi proses belajarnya ketimbang tujuan atau hasil belajarnya.

Fear of Succes (Ketakutan / Cemas akan Keberhasilan)

Terkadang anak-anak yang prokrastinasi memiliki persepsi negatif terhadap kesuksesan. Menurutnya semakin banyak tugas yang diselesaikan, semakin banyak lagi yang harus dilakukan. Akan ada persaingan untuk mengalahkan rekor sebelumnya. Orangtua dan guru sering memberikan statement seperti “saya tahu kamu bisa lebih baik” dengan maksud untuk memberi motivasi. Tetapi pada anak yang memiliki pola pikir seperti ini akan mempersepsikan dukungan tersebut sebagai tekanan.

Pemberontakan pada Pihak Otoritas

Terkadang anak percaya bahwa satu-satunya cara mengontrol oranglain adalah dengan tidak melakukan apa yang oranglain harapkan atau minta. Prokrastinasi terkadang menjadi cara untuk mengekspresikan kemarahan dan permusuhan kepada pihak otoritas.

Locus of Control

Merasa kewalahan, anak-anak yang prokrastinasi sering melihat dirinya seperti banyak yang harus dikerjakan tetapi tidak tahu mulai dari mana. Seringnya mereka menunggu seseorang untuk menyelamatkannya dengan cara menyelesaikan tugasnya atau mengucapkan “tidak usah dikerjakan tidak apa-apa”. Hal ini mungkin terjadi karena terkadang keluarga tidak mendorong anak untuk memiliki sense of mastery atau kontrol terhadap hidupnya sendiri, anak anak menjadi mudah patah semangat di usia muda. Anak seperti ini butuh belajar untuk fokus membuat pilihan berdasarkan self-esteemnya sendiri dan mengurangi kebutuhan untuk memenuhi ekspektasi oranglain.

Kekurangan Skill

Anak-anak yang prokrastinasi mungkin belum belajar kemampuan untuk menyelesaikan tugas dengan cara yang terorganisir. Anak seperti ini akan lebih sering meninggalkan tugas yang tidak selesai dan menimbulkan perasaan frustasi, gagal dan harga diri yang rendah. Memang dibutuhkan untuk mengajarkan kemampuan menyelesaikan masalah, menentukan goals, dan kemampuan manajemen waktu. Tetapi itu saja tidak cukup. Pendekatan untuk menyelesaikan masalah anak yang prokrastinasi harus disertai dengan mengatasi ketakutan dan perasaan negatif lain yang menyertai.

Cara Mendampingi Anak yang Prokrastinasi

a. Menyebarkan deadline

Caranya adalah memecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil dan menyebarkan deadline setiap tugas kecilnya. Cara seperti ini membantu anak melihat penyelesaian tugas lebih realistis dan menghindarkan anak dari perasaan tidak mampu.

b. Memberikan timbal balik berupa dukungan

Karena seringkali permasalahan anak yang prokrastinasi disertai dengan kepercayaan diri, maka cara ini akan dapat membantu. Caranya adalah dengan memberikan feedback positif dengan menghargai prosesnya. Hal yang harus dihindari antara lain: kritikan negatif, feedback yang terlalu mengontrol, dan kritikan di depan teman-temannya.

c. Ajarkan manajemen waktu dan skill belajar

Kemampuan untuk mengatur dan menyelesaikan tugas tidak datang tiba-tiba. Kemampuan ini tidak dapat diajarkan hanya melalui ceramah atau instruksi. Perlu latihan dan pembiasaan supaya menjadi kebiasaan anak.

d. Perhatikan beban kerja

Anak mungkin mengalami tekanan yang lebih tinggi ketika menghadapi tugas besar dengan deadline bersamaan atau berdekatan. Anak seperti ini dapat terbantu ketika didampingi untuk memetakan tugasnya dan memberikan instruksi yang jelas terkait tugasnya.

e. Mengenalkan growth mindset

Anak perlu memahami bahwa hidup adalah tentang belajar dan tugas adalah kesempatan untuk latihan dan bertumbuh. Akan lebih menyenangkan apabila dapat menantang diri sendiri untuk mencapai kemampuan yang lebih baik. Tanamkan kebahagiaan pada proses pencapaian dalam menyelesaikan tugas, bukan pada ekspektasi oranglain.

f. Kolaborasi

Daripada menawarkan bantuan akan lebih baik lagi jika dilakukan kolaborasi atau kerjasama dua arah. Buat kesepakatan dengan anak apa peran kita dalam tugas tersebut. Tawarkan apa yang bisa dibantu hanya ketika anak meminta. Lakukan sebagai partner/ rekan bukan sebagai diktator. Beri kepercayaan anak untuk menyelesaikan tugasnya dengan caranya sendiri.


Sumber :

 BIBLIOGRAPHY Burka, J. B., & Yuen, L. M. (2007). Procrastination: Why You Do It, What To Do About It Now. UK: Hachette.

Morse, L. A. (1990). Working With Young Procrastinators : Elementary School Students Who Do Not Complete School Assignment. In E. R. Gerler, J. C. Ciechalski, & L. D. Parker, Elementary School Counseling in a Changing World (pp. 295-303). Michigan: ERIC Counseling and Personnel Services Clearinghouse All.

Artikel Lainnya