Menyelamatkan Aqidah Anak
Karya : Ibu Leska Tariyani (ibunda dari ananda Hafidza Asma Hammina kelas 4D)
Hidup di negara mayoritas non muslim memberikan tantangan tersendiri dalam pengasuhan anak. Khususnya anak perempuan yang menjelang baligh. Perkataan seorang Ustadzah di salah satu kajian yang saya ikuti begitu terngiang sampai saat ini. "Jangan paksa anakmu berperang jika tanpa kau siapkan bekal persenjataannya," maksudnya, beberapa dari kita mungkin merasa, ah, anakku tidak akan mudah terpengaruh, karena selalu kuajari tentang Islam di rumah. Namun kita lupa, di masa menjelang baligh ini anak-anak cenderung mencari pengakuan di lingkungan sekitarnya, dia ingin beradaptasi dan diterima oleh kawan-kawannya. Sekarang yang menjadi pertanyaan, bagaimana akhlak dan agama kawan-kawannya ini, karena itu akan berpengaruh besar terhadap akhlak dan agama anak-anak kita.
Lalu kenapa saya khususkan, terutama anak perempuan menjelang baligh. Karena lebih besar godaannya, apalagi jika anak itu "populer". Menjadi murid baru, apalagi pendatang dari luar negeri, pasti mengundang perhatian lebih dari kawan-kawannya. Ketidak mampuan bahasa, bullying, godaan dari lawan jenis, menjadi konsen dan kekhawatiran besar bagi kami. Beberapa orang mungkin berpendapat, ah, anak cepat belajar bahasa, dan nanti kan difasilitasi sekolah. Ya benar, tapi saya yakin tetap butuh waktu untuk belajar, dan tetap ada dua kemungkinan, anak cepat mengejar atau justru stress karena tuntutan belajar bahasa plus beban pelajaran. Untuk kasus bullying, sudah banyak kisah dari alumnus sekolah di Jepang, yang bertahun-tahun mengenyam pendidikan di Jepang, bahwa bullying itu ada. Nah, saya yakin banyak orang akan bilang, jangan sedikit-sedikit bawa-bawa bullying, itu akan menguatkan mental anak, mereka akan terdidik untuk manajemen stress. Namun kita lupa, ada resiko trauma anak korban bullying, apalagi jika sampai mendapat kekerasan dalam bentuk apapun, naudzubillahi min dzalik, dan tidak akan mudah disembuhkan.
Di
poin ketiga, yakni godaan dari lawan jenis, pasti banyak yang berpendapat,
mereka kan masih SD, belum kepikiran untuk pacaran. Eits, jangan salah, anak
zaman sekarang, apalagi di tengah gempuran media massa dan lingkungan yang
jelas-jelas berbeda budayanya akan lain ceritanya. Baru-baru ini, ada kawan
yang sudah tinggal lama di Jepang dan menjadi pemerhati remaja Indonesia
terutama yang dari kecil sudah tinggal di Jepang. Ada satu siklus, khususnya
yang sekolahnya di sekolah Jepang, di masa-masa menjelang baligh dan kebetulan
kebanyakan perempuan, saat mereka naik kelas 6 SD, rata-rata sudah berpacaran.
Dan jangan ditanya lagi, bagaimana pacarannya, ngeri!. Kenapa disebut siklus,
karena dalam catatannya dia menemui kasus yang sama di umur tersebut, dan
rata-rata orang tuanya tau tapi masih berpendapat, ah mereka masih anak-anak.
Padahal, di belakang mereka, anak-anak itu sudah semakin terjerumus .
Beliau bercerita bagaimana upaya menyelamatkan anak-anak ini agar tidak terjerumus terlalu jauh. Salah satunya disekolahkan di sekolah Islam atau sekolah negeri Indonesia di Nakano dan Meguro, agar mereka dikelilingi dengan lingkungan Islami dan kawan-kawan yang baik, insyaAllah. Kok jadi sebut merk, ya karena nggak ada cara lain. Sayangnya untuk itu memang membutuhkan budget yang tidak sedikit. Untuk orang tua yang mengandalkan beasiswa seperti kami, akan sangat sulit memfasilitasi anak kesana. Biaya SPP per bulan saja lebih dari separuh beasiswa yang kami terima, belum lagi biaya PP dari tempat tinggal kami yang bisa mencapai 500Â¥-1000Â¥ (sekitar 50ribu-100ribu), dan jarak tempuh yang mencapai 1-2 jam setiap hari.
Lalu bagaimana dengan anak laki-laki? Saya rasa anak laki-laki lebih minim resiko apalagi yang suka dengan olah raga maka perhatiannya akan teralihkan. Alhamdulillah saya semakin bersyukur, bahwa sekolah anak kami mengizinkannya untuk online, walaupun pasti ada saja kekurangannya dibanding offline, saya tetap bersyukur karena anak kami masih dikelilingi lingkungan Islami dimana Ustadz-Ustadzahnya selalu mengajarkan Iman, Islam, dan akhlak yang mulia kepadanya. Terima kasih yang tak terhingga kepada njenengan sedoyo. Semoga Allah yang membalas dengan pahala yang berlimpah, dan amal jariyah yang selalu mengalir hingga di akhirat kelak. aamiin yaa Rabb.
